Klarifikasi Dirto Kamindang Soal Ucapannya Terkait Manajemen ASDP
Balut, IN
Selasa (3/9/2024) Camat Bokan Kepulauan Kabupaten Banggai Laut Dirto Kamindang, SH akhirnya angkat bicara soal ucapannya yang sempat menyatakan manajemen ASDP dinilai bobrok.
Pada wartawan Media Online inovasinews.id camat menjelaskan mengenai kronologis kejadian tersebut.

Menurut camat, sebelumnya ia telah menerima berbagai laporan dari masyarakat perihal transaksi pembayaran tiket yang dilakukan di atas KMP. Teluk Tolo trayek Kaukes-Banggai. Meski sudah membayar uang akan tetapi penumpang seringkali tidak diserahkan tiket resmi termasuk uang kembalian tidak pernah diberikan.
Mendasari laporan masyarakat, dirinya selaku camat berinisiatif untuk membuktikan kondisi tersebut. Karena dirinya tidak bisa menerima laporan warga selaku penumpang secara sepihak tanpa membuktikan terlebih dahulu.
Di tanggal 25 bulan Agustus 2024 kemarin, beliau berangkat ke Banggai dengan menumpangi kapal very KMP. Teluk Tolo. Awalnya staf saya membelikan tiket di loket resmi tapi karena ingin membuktikan laporan masyarakat, maka tiket itu saya kembalikan.
Begitu sudah di perjalanan, seperti biasanya datang ABK penagih tiket. Maka saya mengambil uang dari saku sebesar Rp. 50.000,- dan memberikan kepada si penagih. Setelah itu, si penagih langsung pergi. Saya berpikir mungkin tiket dan uang sisa belum diberikan karena yang bersangkutan tidak membawa blangko tiket dan uang kecil.
Setelah menunggu kurang lebih 10 menit ABK si penagih tiket tidak muncul, saya bergegas turun ke dek bawah dan menanyakan pada penumpang apakah tidak melihat ABK yang dimaksud. Oleh penumpang menjawab yang bersangkutan mungkin sudah berada di dek atas.
Ketika saya naik ulang ke dek atas dan bertemu dengan ABK langsung menyampaikan bahwa beliau tadi sudah membayar tiket uang Rp. 50 ribu tapi tiket tidak diberikan bahkan uang sisapun tidak dikembalikan, jawaban balik dari ABK mengatakan oh iya.
Sesudah itu camat kembali turun ke dek bawah. Kembali lagi setelah menunggu kurang lebih 20 menit tidak ada yang muncul, maka saya naik ulang langsung menghadap d ruang kapten kapal.
Setelah mengucapkan salam dan dipersilahkan duduk, saya menceritakan kronologis pembelian tiket di atas kapal dengan menyerahkan uang Rp. 50 ribu, tetapi tidak diberikan tiket dan uang kembali.
Camat menceritakan kepada kaptem kapal, awal dirinya mendatangi ABK dan mempertanyakan hal itu mungkin masih dianggap sebuah kekhilafan. Akan tetapi yang kedua kalinya mendatangi ABK beliau menganggap hal itu bukan lagi kekhilafan melainkan sudah kesengajaan.
Dan sesampainya beliau di Banggai masyarakat Bungin ada yang meneleponnya menyampaikan pengeluhan yang sama kalau dirinya membayar Rp. 50 ribu tidak diberikan tiket dan uang kembali tidak diberikan. Dengan kejadian ini dirinya selaku camat memperoleh bukti secara langsung kalau selama ini pengeluhan masyarakat ternyata benar adanya.
“Masalah uang sisa itu mungkin cuma harga sebungkus nasi kuning. Tetapi kalau kita pakai rumus matematika banyak dikali sering dalam artian berapa sudah masyarakat yang jadi korban dan berapa kali mereka lakukan hal itu. Lazimnya tiket berdasarkan blok. Dalam satu blok 100 lembar. Kalau kami bayar di perjalanan kemudian tiket tidak diberikan, muncul pertanyaan uangnya mau dibawa kemana ?”, ujar camat. *Sabdin
